“Faaina tadzabun…?”
MENCARI BAROKAH
Oleh: imada
Ngomongin soal Barokah tentu saja – itu sesuatu yang sangat kita harapkan berkenaan dengan hal-hal yang menyangkkut kehidupan, misalnya: keluarga, usaha, harta dll. Semua yang kita miliki yang mengandung kebarokahan tentu akan mendatangkan manfaat, kebaikan, fahala, juga jadi sesuatu yang mendatangkan nikmat dan kebahagiaan. Jelas beda dengan sesuatu yang tidak barokah – Yang biasanya menimbuklkan mudharat/ tidak manfaat, mendatangkan dosa, kejelekan bahkan membahayakan dan membuat tidak senang terlebih bahagia secara lahir ataupun bathin.
Tulisan ini sengaja di buat untuk menasihati diri saya sendiri, berusaha mengENYAHkan kebobrokan yang pernah dilakukan atau yang masih bersarang di hati dan otak ini. Dan bila ada yang berkenan membaca dengan rendah hati, bukan niat saya menggurui – Bebek mengajari berenang pada Angsa. Saya tahu Bebek tidak lebih besar dari Angsa, tidak lebih panjang lehernya, tidak lebih tinggi badannya, tidak lebih indah bulunya, tidak lebih cantik penampilannya, tidak lebih berat telornya, dan tentunya tidak lebih mahal harganya. Nb/ ;tidak lebih banyak tai nya( hehehe….bcanda, gitu aja marah.!)
Barokah berasal dari kata “Katsrotulkhoiri” yang artinya banyak kebaikan yang terkandung di dalamnya. Karna kita sudah mengaji Alqur’an dan Khadist, tentu saja Barokah itu bisa kita minta lewat doa-doa. Dan untuk urusan yang akan kita lakukan – agar berbarokah bisa kita awali dengan shalat Istikharah atau shalat Hajat, agar apa yang kita jalani (walaupun di situ tidak ada unsur pilihan) diridoi dan di beri barokah oleh Allah SWT. Intinya shalat Istikharah itu bukan hanya minta pilihan saja, tapi juga untuk minta kebarokahan.
Sesuatu yang barokah juga harus di awali dengan kebaikan, karna Allah suka dengan yang baik-baik. Dalam dalil jelas di terangkan, misalnya; Allah tidak menerima shadakoh dari hasil mencuri, Dan untuk urusan-urusan yang lain tentu saja Barokah itu sesuatu yang tidak bertolak belakang dengan hukum agama, tidak melanggar peraturan-peraturan yang sudah di tetapkan. Tidak menimbulkan dosa dan mendatangkan fahala dan ridho Allah.
Ada doa yang selalu kita saling amanatkan, saling ucap dan sampaikan yaitu; “Mudah-mudahan Aman Selamat Lancar Barokah….” Bisa kita devinisikan kira-kira begini; Aman dari gangguan dan rintangan orang-orang yang punya niat tidak baik, Selamat dari godaan setan, dan semua hal yang menimbulkan dosa, membahayakan, dan akan merugikan diri sendiri/ orang lain. Lancar dalam semua hal yang kita lakukan terutama hal yang menyangkut amall sholih dan ibadah. Barokah adalah imbalan dari Allah karna usaha kita – yang selalu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat.
Bersyukurlah bila diantara kita saat ini tengah menikmati kebarokah itu, yang Allah turunkan, mungkin lewat bermacam-macam pemberiaan dan nikmatnya. Dan bila salah satu di antara kita merasai sesuatu yang di perkirakan kebalikannya, maka itu semua bisa jadi bahan intropeksi. Periksa kembali asal muasal permasalah, dan perbaiki segera sebelum kemudharatan itu berkembang menjadi “BENCANA”
Bagi saudara/ri yang sudah menikah carilah kebarokahan untuk keluarga saudara/ri saat ini, dengan berbagai cara. Dan bagi yang belum menikah atau saat-saat ini akan menikah carilah kebarokahan untuk bakal keluarga kita nantinya, dengan cara; hindari pelanggaran! Terlebih bila kita masih tergolong biasa-biasa saja atau bahkan masih kurang dalam aktivitas dan kualitas ibadah.
Apa yang mau kita sodorkan di hadapan Allah bila mati tiba-tiba datang? Oh my God…Amal kurang, dosa aja bertumpuk kaya sampah busuk! Ya Allah ampunilah kami, beri kami sedikit waktu untuk bertaubat dan memperbaiki semuanya. Beri kami kecerdasan menghadapi Zaman, jauhkan lah kami dari kebodohan yang setiap saat menggerogoti hati dan otak ini. Amiiin…..!!
Lebih parah dari bodoh kita adalah dzalim, sebab diantara kita semua sudah tahu hukum dan banyak mengkaji ilmu Alqur’an dan Khadist, tapi kenapa masih saja suka berlaku melenceng dari aturan? Sadarlah diriku, sadarlah saudaraku semua….Fa’aina tadzhabuun…??
(Untuk FA’AINA bisa di cut sampai sini)
Bila anda akan menikah dengan orang yang anda sukai/ sama-sama suka, jauh sebelum anda merencanakan menikahinya, hindarilah pelanggaran yang sering kali terjadi untuk mengungkapkan segenap rasa cinta, kasih, sayang dan segala tek-tek bengeknya. Ingatlah… kebarokahan berawal dari kebaikan yang di ridhoi Allah!
Bila ada diantara kita yang khilaf, lupa dan pura-pura lupa, mari untuk saling mengingatkan. Bukankah mengingetkan orang lain, sama dengan mengingatkan diri sendiri.
So siapapun kita, bagaimanapun kualitas diri dan keimanan , jangan segan-segan untuk mengingatkan orang lain, terlebih saudara seiman. Dan memang kewajiban kita adalah saling mengingatkan.
Kadang diantara kita masih ada yang punya pendapat “ah gue aja masih ancur, masa mau negor/ ngingetin orang lain sih…!” Maka hilangkanLAH pendapat dan perasaan itu, agar tidak menjadi “gembok” yang selalu mengunci hati kita dari satu kata yang bernama “SADAR/ ELING/ INSYAF” Pertamanya mungkin kita akan malu pada orang yang kita tegur tadi, apalagi bila dia bukan tergolong orang yang ahli syukur – dia akan membalikan fakta pada kita, “Ala… sok suci loe, ngaca dong…pake sendok!” Tapi jangan putus asa, (walaupun dia tidak bergeming dengan teguran kita) karna manfaat itu akan datang untuk kita, mengetuk pintu hati kita untuk memaknai teguran yang kita ucapkan pada orang lain sebagai cambuk yang memukul kesalahan/ kekhilafan yang sama yang telah kita lakukan, untuk menyadari, menthaubati menyudahi dan tidak mengulanginya.
Dan bila kita menegur kebetulan pada orang yang tergolong ahli syukur, pasti dia akan sangat bersyukur atas teguran kita, melihat pada apa yang dikatakana bukan siapa yang mengatakan. Dan lambat laun kita akan malu, MALU pada diri sendiri MALU pada Allah. Kalau orang lain saja mau kita ingatkan, apalagi diri sendiri. Ya harus mau dong! Maka rakhmat Allah datang, seperti asap Sauna yang perlahan memasuki lubang pori-pori di seluruh permukaan kulit. Memberi kesegaran hawa pagi yang sejuk, membuat kita tersadar dari tidur panjang, yang sekian waktu mengubur kita dalam kubangan dosa dan kebodohan. Prilaku taubat akan mendatangkan rakhmat yang akan jadi tameng, sehingga kita terselamat dari mengulangi kesalahan yang sama. Tapi bila masih tetap terulang, padahal sudah taubat, ah berarti dirinya sendiri aja yang dablek!
Buang jauh-jauh kata; “Nasihat itu hanya boleh keluar dari mulut para ulama dan orang yang tak doyan berbuat dosa.” Agar kita tidak minder menyampaikan kebaikan. Bila kita orang yang peka tentu akan punya rasa. “Berat siksanya bagi orang yang mengatakan tapi tidak bisa mengerjakan” dan inilah dalil yang memicu kita takut untuk tidak berbuat setelah apa yang kita katakana pada orang lain. Dan selayaknya orang yang berkata itu bisa berbuat. Orang yang mengajak itu bisa mencontohi, orang yang melarang itu bisa menjauhi.
Kembali ke…soal pernikahan yang Barokah. Berhubung zaman sekarang zaman canggih, kebarokahan yang kita cari pun lambat laun mulai terkontaminasi, tercelup pada efek-efek kecanggihan itu. bahkan telah banyak mencemari dan meracuni orang-orang yang tadinya punya niat ingin ibadah dan mencari yang namanya Barokah.
Yap nikah adalah ibadah, semisalnya kita mau melakukan shalat, kita akan membersihkan badan/ mandi dulu, minimal wudhu lah, tidak di situ buang kotoran tidak di bersihkan, minum arak dulu atau melakukan hal-hal yang jelek yang kita tahu di larang agama. Bila itu dilakukan juga, apa shalatnya di terima? Apa mendapat fahala? Tentu tidak, bahkan ITU sama saja dengan pelecehan terhadap ibadah. Nah kalau kita mau nikah melanggar dulu bagaimana jadinya – apabila kita persamakan dengan halnya shalat? Maka sama saja dengan menanam benih ketidak barokahan yang akan dipetik saat pernikahan itu sudah terbentuk jadi ruang yang namanya RUMAH TANGGA.
Sekarang-sekarang ini banyak fakta di depan mata, seorang lelaki dan perempuan yang nota bene mengaku orang iman, melangsungkan aksi kasih sayang di HP, saling menyatakan perasaan, saling merayu meluncurkan janji dan ekspresi-ekspresi lainnya yang mengarah ke zina hati. Dan jauhnya zina farji. Naudzubilah himindzalik!
Saya pernah menyelidik seorang teman, “Kamu tahu gak orang iman itu(apalagi seorang yang punya ilmu agama, didapat dari ponpes yang di tinggalinya selama beberapa bertahun), gak bakalan berani jalan bareng, pegang-pegangan dll. Nah sekalinya teleponan bukan tidak mungkin syahwat itu keluar, keluar KAN??” Saya menyelidik Hans, minta jawabannya atas protes yang dia lakukan pada saya, (karna saya telah minta seorang pengurus untuk mengingatkan pelanggarannya)
“Iya…” Jawabnya lesu, sambil mengacak-ngacak rambutnya, mungkin ini ekspresi khasnya, atau mungkin juga doi kutuan atau ketombean. Hihihi….bcanda, gitu aja marah! Eia pertamanya dia ngintrogasi saya gini: “Kamu tidak suka ya, saya suka sama Bethadine (bukan Nadine Candrawinata loh) dan komunikasi dengan dia?”
Saya jadi tercenung dengan pertanyaannya. ops komunikasi apa ya? Kalau disaat aku terlelap lalu terbangun gara-gara suara cekikikan, kadang rengekan, kadang suara manja yang di buat- buat si Betha. Menjijikan! Ini tidak lebih dari warming-uf Amsol (“amallsholeh”) bagi yang udah sah suami istri(kata orang sih…). Saya sempat juga menegurnya untuk bicara lebih pelan, tapi dia tak bergeming, hati saya panas, emosi (karna ini sudah berulang kali terjadi) kekesalan saya harus di eksperikan dengan membanting barang tahan pecah ke daun pintu, dan dia tetap pada aksinya. Dan saya harus ngomong sendiri; DASAR….bla….bla…bla…!!!
“Kamu tidak suka?” Hansaflast membuyarkan pikiran saya soal apa arti dari komunikasi yang dia maksud. “Saya tidak berhak melarang kamu suka ama doi atau siapa pun, tapi caranya dong! Kamu, dia, dan aku ini telah di takdirkan hidup jadi orang yang tahu hukum, jadi munafik aja kalau kita bisa nasihat pada orang lain begini-begitu tapi kita melakukannya juga.” Saya memang tak bisa bicara halus, dan semua yang telah membuat saya muak ini tak pantas lagi diperhalus. Beberapa saat kemudian saya memberi masukan, yang saya sendiri tidak tau sebenarnya dia nerima atau tidak, toh adegan teleponan – yang dia sebut “komunikasi” itu masih aja ada, walau tidak kerap lagi. Dan Bethadine, setelah kejadian (Hansaflast – yayangnya, protes sama saya) jadi agak laen.
Uh sayang sekali padahal si Betha ini di depan semua orang terlihat bersahaja, anggun, faham dan termasuk kriteria cewek beriman yang pantas di jadikan istri. But any way…by the way…bus way…penampilan luar saja tidak cukup untuk jadi pembuktian “dalam”nya seseorang. So jangan membiasakan diri melihat orang dari luarnya saja, karna kamu akan menyesal!
Bersyukurlah bagi yang sudah menikah, dengan selamat dari pelanggaran, dan bagi yang menyadari pernah maka Allah tak menutup pintu taubatnya. Bagi yang punya rencana nikah, tapi terlebih dulu sudah sering kali melakukan pelanggaran dengan calon pasangan, untuk lebih baiknya selain bertaubat, hentikan aja hubungan. Cari saja yang bakal lebih membuahkan kebarokahan. Ambil positifnya, sakit sesaat dengan perpisahan itu, akan menghindarkan kita dari “sakit berkepanjangan” – bila kita memaksakan diri. Bila anda orang yang punya pemikiran sama mungkin Allah telah membuka hati kita untuk sedia payung sebelum hujan, tapi bila tidak, silahkan hujan-hujanan dan payung itu kadang susah di temukan, kalau gak sedia mau nemu dimana?
Kemarin baru saja saya ngeSMS teman lama yang terus terang sangat saya sayang, karna pribadinya selalu ceria dan memang kami bisa nyambung. Hampir tiga tahun tidak ketemu dan lewat HPlah dia cerita mau menikah dengan orang yang dia kenal lewat HP. Beberapa bulan saya tunggu hari H nya tapi sampai sekarang belum juga. Isi SMS saya.1-“Wey…boleh gak aku ngasi komen, tapi jangan marah ya”
“boleh, sok aja. Tnang aja ga bkl marah ko.”
2-“Kalo emang smpe skrg ama Mr Fanadol itu masi blm jls, mnding gak ush aja, ntar kalo jd nikah trus ada yg Tanya. Knal di mn? Trus di jwb, di HP.org akn blg oh…jd tlpon2nan ya? Nah trs reaksi kamu?” (Saya pikir dia tuh MT gitu loh, terus gimana dengan nama baik MTnya?)
INTERMEZO: Dulu waktu masih mondok, saya di ceritai seorang istri guru saya, gini: “Tadi bapak telpon(suaminya lagi ada urusan Sabilillah di luar kota) Ma…mau di “cuki(anu-amsol red)” kah di telpon?” Tentu saja ini guyonan, tapi toh halal aja wong mereka suami istri. Jadi tidak menutup kemungkinan, orang bisa berbuat apa saja dengan media apapun, walau tidak secara langsung. Moral manusia yang harusnya dijunjung tinggi, kini banyak terkoyak terhempas pecah dan bejat. Tidak mengenal ulama dan orang biasa. Naudzubillah himindzalik!
Tak cukup sekali saya menerima sinisme akibat menegur teman yang telponan mengarah ke pelanggaran. Sebut lagi saja Mr Bodrekx, (guru bujang sebuah pondok mini) sebenarnya dia kakak angkatan saya di pondok tapi sayang dia udah lupa kalo punya adik angkatan yang masi mengenalnya. Dia sering calling(bukan keeling)teman saya miss Faramex, dan si cewekpun ternyata tak kalah aktifnya meresfon dan kadang ngecall duluan. Sampai suatu saat saya nge SMS dia untuk mengingatkan, mungkin emang agak keras dan kasar tapi itulah kenyataannya. “Mr,.. kalo emang kamu niat baik ya udah lamar aja si Fara, jd bkal tau di trima/ tdknya. Drpd SMSn tlponn, mlanggar tau. Munafik…ama murid-murid kita bs aja blg jgn tlponn eh, diri kita sndr? malu dong!”
Dia membalas sengit, mungkin tak terima dibilang munafik, sikap dia menyangkal semua perbuatannya, mumbuat saya mual enek dan pengen ketawa sambil naik lemari, GILA kali. Dia bilang, “Aku tidak ada apa2 ko, aku cuma nganggp dia adik.” Adik? Hah kakak apaan itu, masa di SMS pake ngungkapin semua perasaannya. BEJAT, masa kakak berprilaku tak senonoh pada adik! Kalau suka bilang aja suka, apa susahnya coba? udah jelas-jelas, semua ungkapannya itu ada di dalam HPku.
Eiya mungkin belum saya bilang, bahwa selama mereka melakukan telponan si Miss Faramex itu memakai HPku. “Oh jadi itu HP kamu?” Sepertinya dia malu dan kaget. Saya mencak-mencak sendiri; Lha kalau itu HP Fara kamu akan lebih seenak udelmu gitu? DASAR…tukang bohong, mending kalo cuma ngebohongi orang lain, nah ini membohongi perasaan sendiri. Akhirnya pertengkaran lewat SMS terjadi sampai terucap, kata “oh jadi cemburu nih ceritanya kacian deh lo. Saya di bilang cemburu? ah emang kalo orang marah itu bisa bicara apa saja termasuk hal yang tidak mungkin.
Ya akhirnya saya bisa bicara halus, saya terangkan kalau sebenarnya saya sayang bangat sama Fara, kalau dia terus meladeni prilaku Bod bukan tidak mungkin konsen tugasannya akan terganggu. Dan lagi bukankah dosanya akan jadi DOUBLE yaitu, kenean dalil Kaburomaktan… dan juga melakukan pelanggaran ITU. Alhamdulillah akhirnya dia bisa ngerti dan kami saling maafan, dia juga janji untuk brenti.
Ah, saya kira soal begituan tidak akan saya temui lagi, ternyata selang beberapa waktu, ada lagi satu makhluk tuhan yang terserang virus Setan brengsek, yap sebut saja Yungsan(obat jerawat kali?)Yungsan saya anggap teman yang bisa dewasa dan gak bakalan terpengaruh keedanan yang telah lama terlihat diantara teman2 yang lain, eh nyatanya suatu saat saya tau doi disukai Sogun, lebih-lebih kemudian si Sogun ini memberi Yungsan sebuah HP yang lumayan keren lah, dan media inilah yang semakin membuat jarak dan waktu bukan lagi suatu alasan! Terlebih cofy darat pun tak ketingalan sering terjadi.
Lalu saya menyarankan untuk mengembalikan HP itu tapi ternyata Yungsan keberatan, doi bilang HP itu sudah jadi miliknya karna gun sudah melamarnya (dan mungkin mereka akan menikah) “apalagi mau menikah, seharusnya kamu tidak mengawalinya dengan pelanggaran!” Dia cuma diam. Dan saya sungguh tak mengerti dengan jalan pikirannya, kembali soal bahasa muna meluncur dari mulut saya, walau definisi munafik dalam dalil tidak tertulis: “orang yang bisa menasehati/ mengajar(apalagi ulama) tapi dirinya sendiri melanggar. Saya amat kecewa! Lalu saya bilang; “kita lihat saja nanti, kamu tau kan Betha sama Hans bagaimana? Kita lihat saja kelanjutannya!” dalam hati saya bicara; kalau mereka tak jadi menikah berarti Allah masih menyelamatkan mereka dari “sakit berkepanjangan”.
Saya tak tahu apa Yungsan mengerti atau tidak dengan kalimat “kita lihat saja nanti!” karna akhirnya setelah saya merasa semua yang saya katakan tak menimbulkan reaksi apa-apa, saya pun harus diam. Diam antara menahan sakit, kecewa, gak ridho, kasihan dan segala macam perasaan yang sepertinya – Yungsan tak pernah mau mengerti. Yap hidup yang bijak itu memang tidak boleh mengharapkan orang lain mengerti kita, tapi kita harus selalu mengerti orang lain. Dan saya jadi ingat, dulu Betha pernah bilang sama saya; “Kamu jangan terlalu khawatirkan dan mikirin orang lain, karna orang lain aja belum tentu mikirin kamu.” Tapi saya juga ingat nasihatnya seorang ulama; “Akan jadi apa agama ini, kalau diantara kita saling membiarkan saudaranya melanggar dan terjerumus?”
Hendak ke mana engkau pergi? Kenapa kadang kita berani menggadaikan keimanan, kefahaman dan kebarokahan dengan kesenangan yang sedikit, benda atau harta yang nilainya tak ada setai kukupun di hadapan Allah? Dengan apa kita bisa menebusnya, dengan APA? Fa’aina Tadzhabuun…?
Allhamdulillah Jazaakumullohu khoiro… (Trk 29/3/2008 10:36 AM)
