“sekitar kita”
MEMBELI SENYUM
“Senyum dong sedikit….” Kita sering kali mengucapkan kalimat ini pada orang-orang yang “mahal” banget dengan senyum, yang kayanya berat banget untuk menyunggingkan bibirnya kesamping – terlihat giginya atau tidak itu gak masalah, namanya aja senyum jelas berbeda dengan tertawa.
Bisa seulas seperti mentega atau bisa berlumuran seperti minyak goreng, yang jelas harus tepat pada porsinya dan sedap di pandang mata. Senyuman pada umumnya di tujukan untuk orang lain, bisa sebagai isyarat menyapa, menghormati menghargai dan sebagai pelengkap ucapan terima kasih, dimana-mana tidak pantaslah bila kita bilang makasih tapi berpaling muka, cemberut bahkan jutek.
Kalau senyum –senyum sendiri gimana? Boleh-boleh aja tapi liat-liat tempat, mungkin kita emang lagi bahagia sampai meluap dan gak bisa ditahan, jangan sampai senyum-senyum sendiri di depan orang banyak , trus kita di sangka sinting. So senyum atau smile ini sangat banyak kegunaannya.
Selain di gunakan untuk orang lain, senyum juga bisa sebagai gambaran atau cermin hati dan kepribadian seseorang. Orang yang “murah” senyum biasanya punya sifat yang ramah, supel gampang bergaul baik hati, tidak sombong dll. Dan yang mahal senyum bisa jadi kebalikannya. Tapi bila ada seorang teman yang tiba-tiba sulit tersenyum, jangan salah sangka dulu mungkin aja dia lagi ada masalah atau lagi sakit gigi nah kita sebagai teman harus usaha cari tahu berusaha peduli dan menghiburnya agar dia bisa tersenyum kembali seperti sedia kala.
Dan bagi yang dari sononya emang SB(susah banget) senyum, mudah-mudahan bisa cepat merubahnya sedikit demi sedikit, karna orang-orang di sekitar kita mungkin saja sudah lama tersiksa, teraniaya(kaya lagu Letoo aja deh) berharap dan mungkin mendoakan jelek; “Mudah-mudahan cepet….abis dia kerjanya marah-marah melulu, cemberut, jutek judes ketus, cuek bebek ah pokoknya segala yang gak asik di borongnya sendiri!”(titik-titik bisa diartikan sendiri)
Konon kata ahli kesehatan, tersenyum atau tertawa adalah terapi yang mujarab menyembuhkan berbagai penyakit, terutama penyakit non fisik. Misalnya penyakit sakit hati, stress dan penyakit-penyakit yang “goib” lainnya. Dan sudah jadi pribahasa agama bahwa senyum itu ibadah.
Sudah dikatakan tadi, senyum itu banyak gunanya bahkan senyum itu bisa “menyihir” seperti halnya lagu – secara tidak langsung – dengan hanya mendengar saja kalau lagunya menyentuh, enak di dengar, bikin suasana hati berbeda – kadang kita bisa terlarut, terkesima dan ngecap penyanyinya sebagai penyanyi idola. Jatuh hati pada sang penyanyi karna lagunya, bukan karna orangnya; Biar orangnya keren beken dan digilai para ABG kalo suaranya cempreng, lagunya asal-asalan istilahnya cuma “jual tampang doang” buat apa?
Opstt..Kok jadi ngomongin penyanyi ya? Ok kita kembali ke soal senyum yang “menyihir” Bagi kita yang biasanya selalu ada di lingkungan banyak orang, misalnya kerja di kantor pemerintah/ swasta dibagian pelayanan masyarakat/ costumer cervis. Di swalayan/ pertokoan dan usaha dagang lainnya, mulai dari yang namanya lapak di emperan toko, gerobak warung kaki lima(PKL), kios di pasar sampai yang berembel-embel super market. Warung makan, rumah makan kecil, besar, sampai yang namanya resto dan hotel juga perusahan-perusahan jasa lainnya yang bertebaran hampir di tiap sudut kota – senyum merupakan bagian dari kunci sukses.
Ya sadar atau tidak sadar itu merupakan keharusan yang sering kali sebagian orang lupa, menganggap sepele hal yang remeh ini dan tidak menyadari kalau akibatnya akan patal – Karna kita sudah membaca di atas senyum bisa “menyihir” yang tentu saja beda dengan sihirnya Nini Pelet atau sihirnya Nenek Sihir. Karna kita tidak sedang bicara soal ilmu hitam yang di larang agama itu.
Gimana sih ceritanya kok bisa menyihir? Emang sambil senyum baca jampi-jampi? Bukan gitu, karna orang tersenyum itu jelas sekali dari hati, hatinya emang niat dan bila seseorang senyum bukan dari hati/ tidak tulus – Cuma pormalitas yang itu pun merasa terpaksa jelas akan tampak perbedaannya. Saya pernah membaca di sebuah tulisan “coba kita lihat matanya, kalo matanya agak menyipit/ agak merem itu sebagian tanda senyum yang di paksakan. Lain dong dengan orang yang matanya emang asli sipit dan punya kebiasaan kalo tersenyum/tertawa merem.(selesai ketawa orang udah pergi semua.)
Jadi senyum yang tulus itulah yang menyihir kita, membuat kita senang, merasa di hargai dan menjalin komunikasi positif secara tidak langsung. Misalnya pelayan resto yang satu murah senyum yang satu lagi mahal banget, nah bisa saja si pelanggan tidak jadi makan gara-gara si pelayan yang murah senyum kepadanya tidak masuk kerja saat dia mengadakan kunjungan berikutnya.
Apalagi yang namanya usaha jual beli, ada istilah pembeli adalah raja, yang secara wajarnya di tawari dengan bahasa yang baik, senyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih bila si target membeli dan tidak mengumpat/ mencaci bila si target cuma melihat-lihat/ banyak bertanya atau menawar. Perlu di catat juga bagi pembeli jangan mentang-mentang sebagai raja terus bertingkah seenaknya.
Pada umumnya kedua belah pihak harus bisa saling menghargai dan ada keseimbangan, supaya tercipta lingkungan masrakat yang harmonis. Terlebih di kota kecil seperti Tarakan ini, sepertinya disetiap ruas tempat kita akan sering menemui orang yang sama. Sehingga peluang untuk menjalin komunikasi positif itu lebih terbuka lebar. So apa susahnya senyum, apa susahnya bilang trims?
* * *
Baiklah sekarang kita simak parodi – opini dan tragedi yang terjadi di sebagian masyarakat Tarakan berkaitan dengan senyum sapa berbudi dan berbudaya.:
Kisah 1: “ Kau tau gak, kemarin si Borneo yang baru punya bayi sebiji itu, masuk ke salah satu toko gede disalah satu ruas jalan utama di Tarakan ini, niatnya ya mau beli susu buat bayinya. Nah istrinya yang pinter nyetir nunggu suaminya di mobil, soalnya takut kali anaknya yang bersih kena debu jalanan yang bertebaran di sana-sini. Kau tau lagi gak waktu itu si Borneo cuma pakai kaos oblong belel sama celana sedengkul? yang jelas aja, membuat sebagian pelayan (yang biasa ngeduluin negative tinking) melihat tampangnya – tampang orang kere atau paling miris tampang kriminil – waktu dia menghampiri deretan rak susu-susu bayi “ELITE”. Si pelayan langsung buka mulut yang celakanya, tanpa bertanya apa yang di butuhkan pelanggan, senyum ramah dan kalau bisa mungkin menerangkan jenis2 kandungan gizi&kelebihan produk yang ada di sana – dia langsung bilang(lagi-lagi tanpa maaf-senyum atau menganggukan kepala sebagai sapaan) dia bilang; “Pa, itu tuh di sana tempatnya susu yang harganya murah, yang disini… semua, harganya mahal.” Dia menunjukan rak lain di tempat yang agak terpisah. Borneo melirik tajam ke arah pelayan yang bermulut tak kalah tajam itu, apa maksudnya coba? pikir Borneo
“Maksud lo apa?” Borneo langsung naik pitam, darah mudanya mendidih, dirinya merasa di hina terang-terangan. “Lo angap gue gak punya duit apa? Kalaupun iya, elo enggak berhak sok tau, harusnya lo tawarin barang mahal ini biar laku, bukan di simpen sampei jamuran dan terbongkar dalamnya terkontaminasi. Lo mau jualan apa ngoleksi HAAH? Brakk..dsikk…” Amarah yang berkobar di otak Borneo lari ke kaki yang biasa di pakenya main bola kalo lagi gak ada kerjaan, pelayan itu di tendangnya sampai terhunyung, tak puas di situ Borneo mengambil benda dagangan terdekat yang di kira bisa menyalurkan kemarahannya, “Bruukkk…” Benda itu menimpa kepalanya dan kontan berdarah. Suasana jadi ribut, kacau dan berakhir di kantor Polisi.”
* * *
Dari kejadian ini bisa kita lihat dan bisa kita cermati seperti apa dan bagaimana. Kalau dikatakan salah semua salah, Borneo jelas dengan menganiaya dan si pelayan sangat salah karna lebih dulu melupakan tatak rama dan meninggalkan kunci sukses berbisnisnya – ya walaupun sebatas bekerja pada orang lain, tapi bukankah jika si bos sukses tentu saja pekerjapun akan kecipratan, walau kadar cipratannya itu bisa berpariasi.
Saya tak berkata kalau di Tarakan ini ada paradigma lama yang kadung berkembang bebas yaitu; “kalau tidak nampang stile, necis berduit atau sekedar kelimis – jarang dianggap” Karna ini juga opini sebagian masrakat lagi yang masuk ke redaksi.
Kisah 2: Tersebut lagi Nyonya Tanjung S(Sttt..denger-denger beliau udah lama jadi OKB): Dia dan putrinya yang juga pinter nyetir markir mobilnya agak jauh dari sebuah toko elektro yang bisa di kredit, takut kesenggol kali ama kendaraan lain yang keluar masuk – maklum mobil baru BO! Nyonya Tanjung masuk sendirian, dia itu pemberani loh, lalu melihat-lihat semua barang, terutama barang yang memang niat di ambilnya, WAW ternyata sebuah produk keluaran baru yang lumayan canggih, dan para tetangga yang bukan OKB yakin deh belum punya. Lalu dia bercas-cis-cus soal pembayaran dll maksudnya. Tapi ada yang terdengar janggal dari salah satu petugasnya begini? sambil dia terus memperhatikan kostum yang di pakai Nyonya Tanjung. : “Apa Ibu tidak keberatan mengangsurnya?”
Dan nyonya Tanjung S. tersenyum dia sih gak kaya Borneo, dia nyantai aja lalu bilang; “Sory pakai daster ya Mbak, soalnya tadi saya lagi bobo siang, terus di paksa anak saya pergi ke sini, soalnya anak saya ini kalau kemauannya tidak langsung di turuti suka langsung ngamuk kaya kesurupan, bisa-bisa mobil yang baru saya ambil ceash no credit no ngutang dari dealer itu diterbangkannya ke jurang gunung Amal.
Jadi siapa coba nanti yang rugi? udah kehilangan mobil terus nyawa anak saya pula. Mobil sih gak masalah bisa beli lagi, lha tambak saya kan masih bisa di panen tiap bulan. Nah kalau nyawa anak mau beli dimana? Jangankan beli, kredit aja gak ada. Ya udah kalau Mbak keberatan saya kredit atau beli di sini saya cari di Tawau aja, atau mungkin sekalian ke Jepang. Bukannya apa soalnya Indonesia makin hari kok makin banyak pemalsuan produk ya? HERAN deh…”
Nyonya tanjung memanggil seseorang dari ponselnya, “Ndok reneo…kaki ibu kayanya keram nih” Sebuah mobil keluaran baru yang masih mengkilap, berhenti tepat di depan teras toko, Nyonya Tanjung S. pun melesat pergi di iringi tatapan-tatapan dengan berbagai ekspresi. “Mana BU?” anaknya langsung menagih. “Tenang aja besok kita terbang ke Jakarta. Beli di sini mah makan ati”
“Bener bu? Asyiiiiiikk……!!”
* * *
Dari beberapa tragedi dan opini di atas bisa di simpulkan apakah senyum-sapa, posting(positif tinking) dan segala tek-tek bengek yang bisa “menyihir” dan mendatangkan rizki itu harus di beli?Emang siapa yang jual?….BERSAMBUNG.
